Langsung ke konten utama

Kisah dalam Al Qur’an yang Berkaitan dengan Design Thinking


Ilustrasi Qabil memakamkan Habil dalam sebuah manuskrip Islam

(Catatan) Tulisan ini juga diterbitkan melalui laman publikasi Text Context di Medium dengan judul yang sama.

Agama-agama samawi mengenal kisah Habil/Habel/Abel dan saudaranya Qabil/Kain/Cain. Dua anak Adam yang kemudian terlibat dalam kasus pembunuhan yang paling pertama. Kisah pembunuhannya disebutkan di dalam Al Qur’an dan juga Injil. Namun, Al Qur’an melengkapi dengan kisah tentang pemakamannya.

Sebagai insan desain, saya melihat ada sesuatu yang menarik dalam kisah pemakaman Habil oleh Qabil ini. Sesuatu yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun tak banyak yang menyadarinya: design thinking. Mari kita bahas secara lebih lanjut!

Design Thinking dalam Pemakaman Habil

Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah ayat 31, yang artinya.

"Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal." — QS Al Maidah: 31.

Dalam kitab Tafsir Al Muyassar, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan gagak yang menggali tanah adalah untuk menguburkan gagak lain yang mati. Gagak tersebut diutus Allah untuk memberi contoh bagi Qabil yang kebingungan bagaimana cara menguburkan mayat saudaranya. Jika melihatnya dengan jeli, kita akan menyadari bahwa Qabil telah melalui tiga aktivitas utama design thinking. Pertanyaannya, apa itu design thinking?

Menurut Tim Brown, CEO dari IDEOdesign thinking adalah pendekatan berbasis manusia untuk mendapatkan inovasi oleh para pelaku desain dalam rangka memadukan kebutuhan manusia, potensi teknologi dan persyaratan untuk keberhasilannya. Tiga aktivitas utama dalam design thinking menurut IDEO adalah inspirasi, ideasi dan implementasi. IDEO sendiri adalah perusahaan desain global yang dikenal mengimplementasikan design thinking dalam menyelesaikan berbagai permasalahan baik berskala kecil maupun besar.

Dengan masalah yang dihadapi dan datangnya burung gagak sebagai pemberi inspirasi, Qabil kemudian melakukan aktivitas dasar design thinking. Qabil mendapatkan inspirasi tentang cara menguburkan mayat dan mendapatkan ide untuk melakukan hal serupa kepada mayat saudaranya. Tentu saja Qabil melakukan beberapa penyesuaian (-seperti halnya ukuran lubang yang harus dibuat lebih besar) sehingga dapat mengimplementasikan cara gagak menguburkan mayat dalam konteks menguburkan manusia.

Relief kisah Habel dan Kain di Katedral Salerno via Wikimedia Commons

Desain sebagai Kecerdasan Alami Manusia

Kisah Qabil dan Habil sebagai pembunuhan dan pemakaman pertama memberi bukti bahwa kemampuan desain adalah alami pada diri manusia. Nigel Cross dalam abstrak Natural Intelligence in Design mengatakan bahwa kemampuan untuk melakukan desain ada pada semua orang. Hanya saja, sebagian manusia melakukannya lebih baik daripada yang lain.

Design thinking sendiri telah banyak melahirkan inovasi-inovasi yang membawa kehidupan ke arah yang lebih maju. Transportasi, teknologi, internet adalah beberapa di antaranya. Kini saatnya kita memanfaatkannya dan mulai berinovasi. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan dekat, hingga memberi dampak yang lebih besar kepada kehidupan manusia yang lebih luas.

Penutup

Akhir kata, kita dapat mengambil manfaat yang besar dari design thinking jika menyadari potensi dan kuncinya. Apa itu kuncinya? David Kelley, founder dari IDEO berpendapat bahwa kunci dari design thinking adalah creative confidence. Keyakinan bahwa setiap orang adalah kreatif dan kreativitas bukanlah kemampuan menggambar, menulis lagu atau membuat patung, melainkan sebuah cara untuk melihat dunia.

Sebagai wujud kehati-hatian saya terkait dengan persoalan agama, tulisan ini telah melalui proses uji-baca oleh Ust. Jundy Abdurrahman, mahasiswa jurusan Al Qur’an wad Dirosat Islamiyyah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Semoga Allah SWT selalu menjaganya dan juga kita semua. Amin!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desain dan Pencarian Makna dalam The Vignelli Canon

Sampul The Vignelli Canon via dokumentasi   Text Context Tulisan ini juga diterbitkan melalui laman publikasi Text Context di Medium dengan judul yang sama. Tahun 2009, tepatnya pada bulan Januari   Massimo Vignelli   merilis versi   e-book   The Vignelli Canon secara gratis. Versi cetaknya terbit satu setengah tahun kemudian tepatnya pada bulan September 2010. Buku tersebut ditulis Vignelli dalam rangka membagi pengetahuan profesionalnya, juga untuk membantu para desainer muda dalam berkembang. Di awal buku, Vignelli menyebut ada tiga aspek dalam desain yang baginya penting, salah satunya adalah aspek semantik.  Semantik  berasal dari bahasa Yunani  semantikos . Kata dasarnya  sema  yang berarti tanda. Ia biasa dikaitkan dengan dua aspek lain yaitu aspek sintaksis dan aspek pragmatik. Ketiga aspek inilah yang juga disebut Vignelli di awal buku. Membahas ketiganya dirasa akan jadi terlalu panjang. Untuk itu, tulisan ini hanya akan berfokus pada pembahasan aspek semantik saja. Sementar